Wednesday, 16 March 2011

Tanda-tanda Ada Jin dalam Badan


                 Adakah gambar tersebut jelmaan jin?

Antara tanda2nya :

DALAM KEADAAN JAGA
- Selalu ternampak makhluk halus ataupun lintasannya.
- Selalu berasa seperti diperhati oleh sesuatu.
- Selalu terdengar bisikan/ suara/ hela nafas
- Selalu ada pergerakan dalam badan.
- Ada penyakit yang tak ada penjelasan mengikut kajian sains.
- Selalu sakit kepala.
- Selalu sesak nafas
- Selalu cepat marah
- Berasa marah / benci kepada seseorang tetapi tak pasti atas sebab apa, hanya berasa marah sahaja akan dia.
- Ada kesan-kesan cakar/ lebam pada tubuh.
- Selalu berasa ketakutan.

KETIKA TERTIDUR


- Kerap terjaga.
- Selalu susah hendak tidur
- Bercakap/ berjalan dalam tidur
- Selalu mimpi lihat binatang-binatang buas dan berbisa.
- Selalu mimpi kanak-kanak
- Selalu mimpi bersetubuh dengan seseorang.
- Selalu mimpi lemas/ banjir

Sekiranya ada banyak daripada ciri-ciri di atas, besar kemungkinan ada jin yang mengganggu.

sumber: Abu Zulfiqar

Apakah Manusia Bisa Melihat Jin…..?

Jika yang dimaksud melihat Jin dalam arti melihat dengan mata kepala maka manusia tidak dapat melakukannya, Allah Ta’ala menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. QS:7/27.
Demikian pula yang dinyatakan Ibnu Abbad r.s dalam sebuah hadis Nabi s.a.w. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. berkata:

مَا قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْجِنِّ وَمَا رَآهُمُ

Yang artinya: Rasulullah saw tidak membacakan al-Quran kepada jin dan tidak pula melihat mereka.
Kisahnya sebagai berikut: Suatu saat ketika baginda Nabi saw. dalam perjalanan bersama para Sahabat ra. menuju pasar Ukaz, tepat pada saat itu, antara syaitan jin dan berita dari langit sedang dihalangi dan mereka dilempari dengan panah berapi. Maka merekapun kembali kepada kaum mereka, dan mereka berkata : Antara kami dan berita dari langit telah dihalangi dan kami dilempari dengan panah berapi. Kaum mereka berkata : pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa di muka bumi, coba pergilah menyebar ke bumi, baik di sebelah timur maupun baratnya, carilah apa menjadi penyebabnya, sehingga antara kita dan berita dari langit menjadi terhalang. Mereka pun pergi ke bumi di sebelah timur dan baratnya. Dan diantara mereka ada yang menuju arah Tihamah yaitu mengikuti arah perjalanan Nabi saw. bersama para sahabat ra. Saat itu Baginda Nabi saw sedang berada di bawah pohon kurma dalam perjalanan menuju ke pasar Ukaz dan Baginda Nabi saw. sedang melaksanakan sholat Subuh bersama para Sahabat. Ketika mereka (sekelompok jin) itu mendengarkan al-Quran dibaca, mereka memerhatikannya dan berkata : Inilah yang menjadikan kita terhalang dengan berita dari langit. Maka merekapun kembali kepada kaum mereka lalu berkata: Wahai kaumku :

( إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا )

Yang artinya: Sesungguhnya aku telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat menunjukkan kita kepada kebenaran, maka aku beriman kepadanya dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun. Maka Allah SWT. menurunkan kepada nabi-Nya Muhammad saw dengan firman-Nya:

( قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ )

Yang artinya: Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya sekumpulan jin telah mendengar bacaan al-Quran
1.    Riwayat Bukhori di dalam Kitab Azan Hadits Nomor 731
2.    Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat Hadits Nomor 681
3.    Riwayat Tirmidzi di Dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an Hadits Nomor 3245-3247.
Jika yang dimaksud melihat jin dalam arti mengenali, maka untuk hal tersebut orang tidak harus menggunakan mata kepala. Orang bisa mengenali suatu benda dengan indera yang dimiliki, dengan penciuman atau pendengaran, asal dengan itu orang tersebut dapat mengenali sesuatu maka boleh dikatakan ‘rukya’ atau melihat. Semisal orang buta mampu mengenali uang kertas, padahal dia tidak pernah melihat uang itu dengan matanya. Dengan mencium orang dapat mengenali kwalitas tembakau, dan dengan mendengar orang dapat mengenali seseorang melalui suaranya. Orang bisa mengenali suara, tetapi suara itu tidak dapat dilihat dengan mata kepala melainkan didengarkan dengan indera pendengaran. Meski hanya dengan pendengaran, ketika seseorang dapat mengenali suatu benda, maka orang itu berarti mengenali benda tersebut.
Seperti orang makan salak secara terus-menerus sehingga menjadi tahu dengan persis bahwa salak yang dimakan itu salah pondoh, orang tersebut berarti orang yang kenal salak pondoh. Bahkan semakin ahli, semakin itu pula dia dapat mengetahui dengan tepat terhadap segala jenis-jenis salak secara spesifik. Melihat jin itu tidak harus dengan mata kepala, yang pasti jin itu ada, jin melihat manusia tetapi manusia tidak dapat melihat jin. Kehidupan jin itu dekat dengah kehidupan manusia, hanya saja manusia tidak dapat merasakannya. Demikianlah yang dinyatakan Allah dengan firman-Nya.
Oleh karena alam jin adalah alam yang ghaib bagi indera lahir manusia, untuk mengenalinya, maka dengan indera yang lahir itu seorang hamba wajib mengimani apa-apa yang disampaikan oleh Allah Ta’ala dengan wahyu-Nya. Ketika alam jin dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya, maka kewajiban manusia harus mengimaninya, selanjutnya, dengan kemampuan imaginasi yang ada manusia harus bersungguh-sungguh mengadakan penelitian dengan cara yang benar, hasilnya, dengan ilmu Allah dan izin-Nya manusia akan dibukakan penutup matanya sehingga mereka mendapatkan sesuai yang diharapkan. Ketika Allah SWT. berfirman:

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا- الفرقان:25/53

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. QS:25/53.
Maka manusia harus mengimani firman Allah Ta’ala itu, karena hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya. Menurut ayat diatas, alam manusia bagaikan samudera dan alam jin juga bagaikan samudera, namun antara keduanya dibatasi oleh barzah atau ruang waktu dan dinding-dinding yang membatasi. Maksudnya, alam manusia adalah suatu dimensi dan alam jin juga merupakan suatu dimensi, namun masing-masing dimensi itu dibatasi oleh dimensi lain pula. Seperti alam mimpi adalah dimensi dan alam jaga juga merupakan dimensi, namun masing-masing tersebut dibatasi oleh dimensi yang lain yaitu alam tidur. Alam tidur dikatakan sebagai pembatas antara alam sadar dengan alam mimpi, karena tidak semua orang tidur pasti bermimpi, hal ini membuktikan bahwa alam tidur berbeda dengan alam mimpi.
PENAMPAKAN YANG MENGHANTUI HAYAL MANUSIA
gambar-jin1
gambar jin ?
Ketika seseorang mendapatkan penampakan, baik sebagai buah wirid dan mujahadah yang mereka lakukan atau karena ingatannya sedang sakit, mereka mengira, penampakan-penampakan itu merupakan bentuk jin yang asli, padahal sesunguhnya bukan, karena tidak ada yang dapat mengetahui bentuk jin kecuali hanya Allah Ta’ala. Penampakan-penampakan tersebut hanyalah bentuk gambar (visual) yang ditusukkan jin ke dalam alam hayal manusia, hal itu bisa terjadi, karena orang tersebut sebelumnya telah menghayal jin sesuai dengan hayalannya sendiri. Oleh karena itu, apabila orang-orang yang mendapatkan penampakan itu sebelumnya menghayal jin dalam bentuk putih-putih maka penampakan yang muncul berupa gambar putih-putih, jika mereka membanyakan jin dalam gambaran hitam-hitam maka penampakan yang muncul berupa hitam-hitam. Penampakan-penampakan itu sesungguhnya hanyalah hasil sihir jin dengan mengambil hayalan manusia kemudian dibentuk menjadi visual dan dimasukkan kembali ke dalam bilik hayal manusia tersebut. Dalam kaitan ini banyak orang ahli wirid dan mujahadah terperangkap di dalam tipudaya setan jin. Terlebih lagi ketika penampakan itu kemudian mengeluarkan suara dan mengaku sebagai ruh wali, maka ahli wirid itu menghadapi jebakan setan jin yang sangat mematikan. Sedikit demi sedikit mereka akan dijadikan orang sombong, karena merasa mempunyai kelebihan di atas orang lain.
Orang tidak dapat melihat jin karena mata lahirnya sedang ditutupi, atau karena sorot pandangnya sedang terhalang oleh hijab-hijab basyariah. Ketika hijab-hijab itu dihapus sehingga penutupnya menjadi terbuka, hal ini bisa terjadi sebagai buah ibadah yang dijalani, maka dengan izin-Nya manusia dapat merasakan keberadaan jin. Allah telah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya:

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”. QS:50/22.
Walaupun seandainya manusia dapat melihat jin karena sorot matanya telah menjadi tajam sehingga tembus pandang dan ketika ternyata bentuk jin itu tidak sama dengan segala bentuk yang ada di dunia, dapatkah  orang tersebut mencontohkannya kepada orang lain di dunia…? Ketika pandangan mata manusia telah menjadi tembus pandang karena penutupnya telah dibuka, berarti saat itu manusia tidak melihat dengan mata lahir melainkan dengan mata batin atau matahati, karena hanya dengan matahati itu seseorang dapat melihat alam yang dighaibkan terhadap mata dhohir. Keadaan yang dilihat oleh matahati , sebagaimana yang disebutkan di atas, dapatkah hal tersebut diperlihatkan kepada orang lain melalui mata lahirnya? Tentunya tidak bisa,  keadaan itu seperti orang dapat mengenali suara dengan indera pendengaran, dapatkah suara itu kemudian dikenalkan kepada orang lain melalui indera penciuaman, semata-mata karena indera pendengaran orang tersebut sedang dalam keadaan rusak….?
Walhasil, apa saja yang dapat dicontohkan oleh manusia tentang bentuk jin melalui gambar-gambar yang dapat dilihat oleh mata lahir manusia yang lain, sesungguhnya itu hanyalah kebohongan belaka, baik kebohongan yang disebarkan oleh jin terhadap manusia yang dapat dibohongi maupun oleh manusia yang memang pekerjaannya suka berbuat kebohongan. Sesungguhnya bentuk asli jin itu tidak mungkin dapat dilihat manusia dengan panca inderanya melainkan hanya dapat dilihat dengan indera batin yang disebut matahati. Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui kepada segala ciptaan-Nya. ( Uraian dalam tulisan ini masih banyak hal yang disampaikan secara rahasia karena menyangkut hal yang memang harus dirahasiakan, oleh karena itu diharapkan para pembacanya tidak serta merta memperdalam kecuali dengan bimbingan ahlinya, malfiali)
PENYAKIT AKIBAT GANGGUAN JIN
Sebagai dampak kesurupan jin, pasca kesurupan itu orang tersebut bisa kejangkitan penyakit jin atau yang disebut penyakit non medis. Apabila penyakit jin ini menyerang wilayah kesadaran, berarti orang tersebut menjadi hilang ingatan atau gila. Apabila menyerang jasad berarti orang tersebut terkena penyakit jin. Penyakit jin yang menyerang jasad ini bentuk wujudnya berupa angin dimensi jin. Angin itu masuk ke badan manusia kemudian menempel di salah satu bagian organ tubuhnya. Apabila menyerang kaum ibu, kedudukan angin jin tersebut seringkali menempel di bagian payudara dan rahim. Ibarat tanah liat ketika dibakar akhirnya menjadi batu bata, maka seperti itu pula ketika makhluk jin yang asal kejadiannya api itu tinggal di dalam jasad manusia yang asal kejadiannya tanah, maka anggota tubuh yang ditempeli itu terbakar sehingga mengeluarkan reaksi. Awalnya mengeluarkan lendir, kemudian lendir itu menjadi darah lalu menjadi segumpal daging. Ketika dampak angin jin itu sudah berbentuk daging, apabila dideteksi secara medis, maka gejala sakit itu di-indikasikan sebagai tumor atau kanker, bahkan merupakan tumor atau kanker ganas dalam arti ketika daging penyakit itu diangkat menyebabnya seketika menjalar ke tempat lain. Maka orang yang terkena tumor atau kanker yang penyebabnya benda jin ini meski berkali-kali tumornya diangkat secara medis, sakitnya tidak kunjung sembuh, bahkan semakin membahayakan karena sumber tumor tersebut malah berkembang biak.
Gejala awal, orang yang terkena penyakit jin ini sekujur tubuhnya terasa sakit, bahkan terkadang sumber sakitnya berpindah-pindah tempat. Seperti ada angin yang berjalan di sekujur tubuh. Tanda-tanda kalau sakit tersebut akibat benda jin, ketika orang yang sakit itu diperiksakan secara medis, dokter yang memeriksa tidak menemukan penyebabnya. Dokter yang satu mengatakan sakit ini dan dokter yang lain mengatakan sakit yang lain pula. Ketika penyakit tersebut diobatkan ke dukun, maka dukun itu seringkali menvonis sebagai terkena sihir atau santet, padahal orang sakit seperti tersebut tidak selalu akibat disantet orang. Bahayanya lagi apabila yang dituduh berbuat santet itu kerapkali disebutkan oleh dukun itu secara jelas. Akibatnya, usaha pengobatan melalui dukun itu kerapkali tidak menjadikan orang yang sakit menjadi sembuh, bahkan malah menyebabkan timbul fitnah berkepanjangan dan berbuntut menjadi permusuhan yang tiada henti.
Secara ilmu agama, penyakit yang penyebabnya angin jin itu memang ada dan terkadang hasil ulah manusia dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada dimensi jin. Manusia bekerja sama dengan jin yang lazim dikatakan santet atau sihir. Dari dahulu sihir itu memang ada dan bahkan Rasulullah s.a.w. pernah terkena sihir yang dilakukuan oleh orang Yahudi. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh sebuah hadits.
Diriwayatkan dari Aisyah r.a berkata: Rasulullah saw pernah disihir oleh orang Yahudi dari Bani Zuraiq yang bernama Labid bin al-A’sham sehingga Rasulullah saw merasakan seolah-olah berbuat sesuatu yang bukan perbuatannya. Pada suatu hari atau suatu malam Rasulullah saw berdoa dan terus berdoa, kemudian beliau bersabda: Wahai Aisyah, apakah engkau merasa bahwa Allah telah memberiku pertunjuk mengenai apa yang aku mohonkan kepada-Nya ? Dua Malaikat telah datang kepadaku. Salah satunya duduk di samping kepalaku dan yang satu lagi duduk dekat kakiku. Malaikat yang berada di samping kepalaku berkata kepada Malaikat yang berada dekat kakiku atau sebaliknya:

مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ مَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِي أَيِّ شَيْءٍ قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ , قَالَتْ : فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ :  يَا عَائِشَةُ وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

Yang artinya: Apa sakit orang ini ? Yang ditanya menjawab: Tersihir. Seorang lagi bertanya: Siapakah yang menyihirnya ? Yang satu lagi menjawab: Labid bin al-A’sham Salah seorang bertanya: Di manakah sihir itu ditempatkan ? Yang satu lagi menjawab: Pada sisir dan rambut yang jatuh pada sisir serta simpul yang dibuat dari akar kurma jantan. Salah satunya bertanya : Di manakah benda itu diletakkan ? Yang satu lagi menjawab: Di dalam telaga Zu Arwan. Aisyah ra meneruskan : Lalu Rasulullah saw pergi ke telaga tersebut bersama-sama para Sahabat. Kemudian baginda bersabda: Wahai Aisyah demi Allah, seakan-akan air telaga itu berwarna kuning kemerah-merahan dan akar-akar kurma yang ada di situ bagaikan kepala-kepala syaitan. Aku (Aisyah) bertanya: Ya Rasulullah, mengapakah engkau tidak membakar saja benda itu ? Rasulullah saw menjawab: Tidak. Mengenai diriku, Allah telah berjanji akan menyembuhkanku dan aku tidak suka membuatkan orang banyak menjadi resah, oleh karenanya aku menyuruh menanamnya.
·    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Pengobatan hadits nomor 5324.
·    Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4059.
·    Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Pengobatan hadist nomor 3535.
Penyakit non medis itu memang terkadang akibat disihir orang jahat, namun juga terkadang akibat orang kesurupan jin. Apabila kita menemukan gejala sakit sebagaimana disebutkan di atas, maka sebaiknya kita tidak hanya melakukan upaya pengobatan secara medis saja, namun juga secara non medis. Dalam arti memeriksakan sakit tersebut kepada ahlinya. Banyak hal yang bisa menyebabkan orang terkena penyakit non medis. Tidak hanya dari dimensi jin saja, namun juga terkadang dari akibat pola pikir yang tidak sehat. Yang asalnya pola pikir tidak sehat, ketika terjadi ketidakseimbangan antara emosional, rasional dan spiritual sehingga pikiran orang menjadi bleng, pikiran yang bleng tersebut bisa dimanfaatkan oleh jin untuk memasukkan penyakit dalam tubuh manusia yang diincarnya.
Untuk mendiagnosa penyakit tersebut, dibutuhkan orang yang matahatinya cemerlang. Sorot matanya mampu menembus beberapa lapisan dimensi yang ada sehingga dia benar-benar mampu menemukan penyebab penyakit tersebut. Orang yang demikian itu bukan seorang dukun yang memang sengaja membuka praktek untuk mencari uang. Namun mereka itu adalah orang-orang ahli ibadah yang hatinya ihlas. Mereka menolong manusia semata-mata mengamalkan ilmu yang dimiliki sebagai bentuk wujud pengabdian kepada Tuhannya secara horizontal. Sebagai buah ibadah yang dilakukan, hati mereka menjadi bersih dari kepentingan dunyawiyah sehingga sorot matanya menjadi tembus pandang. Setelah diagnosa sudah dilakukan dengan benar, biasanya cara penyembuhannya malah menjadi mudah, bahkan lebih mudah daripada diagnosanya. Hal tersebut bukan berarti ahli ibadah itu dapat menyembuhkan orang sakit, tetapi melalui tangannya, Allah Yang Maha Menyembuhkan memberikan kesembuhan kepada orang yang harus ditolong tersebut.
Banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang penyakit non medis ini, namun karena luasnya ilmu tersebut, maka tidak mungkin dapat diuraikan secara mendetail dalam bahasa tulisan yang terbatas, kecuali ditindaklanjuti dengan cara berdialog secara interaktif kasus per kasus. Oleh karena itu, apabila pembaca ingin memperdalam pembicaraan silahkan memanfaatkan ‘rubrik konsultasi’ untuk bertukar fikiran dengan penulis. Semoga Allah Ta’ala membukakan pintu hidayah-Nya untuk kita dan memberikan hikmah guna memahami romantika kehidupan ini.(malfiali)

Hikmah Aqiqoh dalam Prespektif Penyembuhan Penyakit

Sejak seorang suami memancarkan sperma kepada istrinya, lalu sperma itu berlomba-lomba mendatangi panggilan indung telur melalui signyal kimiawi yang dipancarkan darinya, sejak itu tanpa banyak disadari oleh manusia, sesungguhnya setan jin sudah mengadakan penyerangan kepada calon anak mereka. Hal tersebut dilakukan oleh jin dalam rangka membangun pondasi di dalam janin yang masih sangat lemah itu, supaya kelak di saat anak manusia tersebut menjadi dewasa dan kuat, setan jin tetap dapat menguasai target sasarannya itu. Maka sejak itu pula Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada umatnya cara menangkal serangan yang sangat membahayakan itu sebagaimana yang disampaikan Beliau saw. melalui sabdanya berikut ini :

حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا *

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a berkata: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: apabila seseorang diantara kamu ingin bersetubuh dengan isterinya hendaklah dia membaca:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Yang artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku! Jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami. Sekiranya hubungan aantara suami istri itu ditakdirkan mendapat seorang anak. Anak itu tidak akan diganggu oleh setan untuk selamanya
·    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Nikah hadits nomor 4767.
·    Riwayat Muslim di dalam Kitab Nikah hadits nomor 2591.
·    Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Nikah hadist nomor 1012.
·    Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Nikah hadits nomor 1846.
Disaat manusia sedang menjalani bagian kehidupan yang paling nikmat, mereka tidak boleh lupa diri. Mereka tidak boleh lupa kepada Allah Ta’ala. Kebahagiaan hidup itu harus dimulai dengan berdzikir menyebut asma-Nya dan membaca do’a. Hal itu harus dilakukan, supaya kebutuhan biologis manusiawi tersebut dinilai sebagai amal ibadah. Ketika perbuatan yang sering menjadikan manusia lupa diri itu menjadi amal ibadah, disamping mereka mendapatkan pahala yang besar, juga apa saja yang ditimbulkan darinya akan menjadi buah ibadah. Oleh karena ibadah berarti menolong di jalan Allah, maka Allah Ta’ala akan selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang beriman itu. Allah Ta’ala menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ – محمد:47/7

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. QS:47/7.
Dengan sebab pertolongan Ilahiyah tersebut, sejak saat itu juga calon anak manusia itu akan mendapatkan perlindungan dari-Nya. Janin yang masih sangat lemah itu dimasukkan dalam benteng perlindungan-Nya yang kokoh sehingga setan jin tidak mampu lagi mengganggu untuk selama-lamanya. Allah Ta’ala telah menyatakan pula dengan firman-Nya:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ – الحجر:15/42

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. QS:15/42.

aqiqoh-1
Adakah kasih sayang yang melebihi kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, dan Rasulullah saw. kepada umatnya? Betapa seandainya tidak ada kasih sayang itu. Seandainya kita tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. usaha tandingan untuk menangkal bahaya besar yang tidak banyak disadarai oleh manusia itu, adakah kira-kira manusia dapat selamat dari ancaman setan jin yang sangat mengerikan itu? Sementara sepasang anak manusia sedang asyik-asyiknya dalam keadaan lupa diri, ternyata setan jin telah menyiapkan jurus-jurus ampuh. Jika seandainya tidak ada penangkal tersebut barangkali dapat dipastikan, tidak ada seorang manusiapun mampu menyelamatkan diri dari serangan jin yang mematikan itu.
Buah ibadah yang dilakukan oleh seorang laki-laki sebelum mendatangi istrinya itu disebut “Nismatul ‘ubudiyah” sedangkan kehidupan yang mendiami janin di dalam rahim seorang ibu itu disebut “Nismatul adamiyah”. Selama keberadaan nismatul adamiyah didampingi nismatul ‘ubudiyah, sampai kapanpun anak manusia tetap mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala. Dengan perlindungan itu setan jin tidak mempunyai kekuatan untuk menguasainya, kecuali manusia sendiri terlebih dahulu merusak sistem perlindungan tersebut dengan berbuat kemaksiatan dan dosa. Akibat dosa-dosa yang dilakukan itu dengan sendirinya nismatul ‘ubudiyah akan meninggalkan nismatul adamiyah, sehingga terbuka peluang bagi setan jin untuk menguasai manusia.
Ketika persetubuhan itu tidak dilandasi dengan nuansa ibadah, tidak diniati dengan niat yang baik, hanya memperturutkan dorongan hawa nafsu belaka, lebih-lebih lagi dilaksanakan dalam kondisi masih haram, sehingga sejak proses awal kejadian anak manusia itu tidak mendapatkan nismatul ‘ubudiyah, tidak mendapatkan sistem penjagaan malaikat untuk melindungi jalan hidupnya, maka sejak masih berbentuk janin itu, anak manusia tersebut sudah terkontaminasi anasir-anasir jin. Akibatnya, sejak itu pula menjadi sangat rentan mendapatkan gangguan setan jin, baik jasmani maupun ruhaninya. Jasmaninya dalam arti sangat rentan mendapatkan berbagai macam penyakit yang penyebabnya datang dari dimensi alam jin dan ruhaninya dalam arti baik kesadaran maupun karakternya rentan mendapatkan gangguan jin. Dengan demikian itu berarti, bagian kehidupan anak manusia itu telah tergadai di dalam kekuasaan setan jin sehingga kapan saja jin dapat melaksanakan niat jahatnya. Allah Ta’ala telah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ – المدثر:74/38

Tiap-tiap jiwa dengan apa yang telah diperbuatnya akan tergadai. QS:74/83.
Akibat dari kesalahan tersebut, jiwa anak manusia bagaikan sudah digadaikan oleh orang tuanya kepada setan jin, maka dia membutuhkan tebusan untuk membebaskannya. Oleh karena itu, berkat rahmat-Nya yang Agung, Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan kepada setiap orang tua untuk menebus jiwa anaknya tersebut dengan melaksanakan sunnah Rasulullah saw yang disebut Aqiqoh.
Sebagaimana pelaksanaan ibadah qurban – laki-laki dengan dua ekor kambing dan perempuan dengan satu ekor kambing – Aqiqoh juga demikian. Rasulullah saw. sebagai seorang Rasul yang “Ma’shum” atau yang sudah mendapat jaminan keselamatan dan penjagaan dari akibat kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa, beliau melaksanakan Aqiqoh untuk putra-putrinya hanya selang tujuh hari setelah hari kelahirannya. Hal itu berarti mengandung pelajaran bagi umatnya tentang demikian besarnya hikmah Aqiqoh.
Jika diambil arti secara filosofi, tujuan aqiqoh juga seperti tujuan ibadah qurban, yakni melaksanakan tebusan atau yang disebut dengan istilah Fida’. Artinya; yang semestinya Nabi Ismail as. mati kerena saat itu Nabi Ibrahim as. mendapatkan perintah untuk menyembelihnya, namun kematian itu ditebusi oleh Allah Ta’ala dengan kematian seekor binatang qurban. Sehingga sejak itu, setiap hari Raya Qurban kaum muslimin disunnahkan untuk melaksanakan qurban dengan menyembelih binatang qurban. Seperti itu pula tujuan aqiqoh yang dilakukan oleh kedua orang tua terhadap anaknya. Yakni melaksanakan penebusan barangkali di saat kedua orang tua tersebut melaksanakan kuwajiban nafkah badan ada kehilafan. Maksudnya, bagian kehidupan anak yang sudah terlanjur tergadaikan kepada setan jin akibat kesalahan yang diperbuat, orang tua itu dianjurkan melaksanakan tebusan dengan melaksanakan aqiqoh bagi anak-anaknya.

aqiqoh-2
Oleh karena itu hendaknya umat Islam melaksanakan aqiqoh untuk anak-anaknya dengan sungguh-sungguh, dilaksanakan dengan ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala. Aqiqoh boleh dilaksanakan bersamaan pelaksanaan hajad-hajad yang lain, hal itu karena daging aqiqoh dianjurkan dibagikan dalam keadaan matang. Boleh untuk walimatul ‘ursy, atau walimatul khitan umpamanya, asal dalam pelaksanaan itu tidak dibarengi dengan niat-niat yang tidak terpuji. Aqiqoh tidak boleh dibarengi dengan niat-niat yang dapat membatalkan pahala ibadah, misalnya untuk berbuat bangga-banggaan atau untuk perbuatan riya’ dan pamer, atau perbuatan yang sifatnya mubadzdzir menurut hukum agama islam, seperti pesta-pesta perkawinan yang sifatnya hanya untuk menunjukkan status dan kehormatan duniawi, hanya untuk pamer kesombongan dan bangga-banggaan. Hal itu dilakukan agar aqiqoh yang dilaksanakan itu benar-benar mencapai target sasaran. Menjadikan kafarot atau peleburan bagi dosa-dosa dan kesalahan yang telah terlanjur dilakukan oleh kedua orang tua.
Jadi, salah satu hikmah aqiqoh adalah, disamping diniatkan untuk melaksanakan sunnah Rasul saw, juga dapat dijadikan media atau sarana bagi usaha penyembuhan orang yang telah terlanjur jiwanya tergadaikan kepada setan jin sehingga badannya  dihinggapi berbagai penyakit. Aqiqoh yang dilaksanakan itu bukan dalam arti kambing yang disembelih itu kemudian dipersembahkan kepada jin yang sedang memperdaya orang yang sakit sehingga hukumnya menjadi syirik. Hal tersebut sebagaimana yang disangkah oleh sebagian kalangan yang tidak memahami ilmunya. Namun dilaksanakan semata-mata melaksanakan syari’at agama. Dengan asumsi, bahwa ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba bukan untuk kepentingan Allah Ta’ala, tetapi pasti ada kemanfaatan bagi orang yang malakukannya. Hal itu bisa terjadi, karena secara sunatullah, Allah Ta’ala sudah menetapkan bahwa setiap amal kebajikan pasti dapat menghilangkan kejelekan, asal kebajikan tersebut dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah-Nya. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ  – هود:11/114

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. QS:11/114.

No comments:

Post a Comment